Menolak Perintah yang Meragukan

Rembuk  

Jadi pemimpin atau komandan sebuah tim kerja itu banyak risikonya. Kalau salah pasti jadi sasaran amarah, sedangkan kalau ada benarnya belum tentu diingat. Repot memang. Tapi kalau menolak jadi pemimpin, belum tentu orang lain mau menempati amanah itu.

Dalam situs Islam Digest naungan Republika hampir dua tahun lalu, sudah disampaikan satu kisah yang bagi saya sangat melekat. Di artikel itu disampaikan bahwa Rasulullah SAW pernah menghampiri sahabat-sahabatnya dan berujar bahwa sepeninggal beliau nantinya akan ada pemimpin yang jika ada di antara kita berpihak pada mereka yang membenarkan kedustaan mereka atau menolong kezaliman mereka, maka ia tidak termasuk golongan Rasulullah SAW. Dan mereka tidak akan pernah bisa mendatangi telaga Rasul yang begitu indah nan sejuk.

Sebaliknya, jika ada di antara kita yang tidak membantu kezaliman dan tidak membenarkan kedustaan, maka ia akan masuk dalam golongan Rasul, sehingga akan dibiarkan menikmati indahnya telaga itu.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Lantas, dari mana kita bisa tahu bahwa sebuah perintah yang diberikan oleh pemimpin tidak akan mencelakakan kita? Ingin rasanya kita patuh, dan wajib pula kiranya kita mengikuti perintah pemimpin kita selaku imam di dunia ini. Sudah banyak ulama yang mengingatkan kita agar tidak mudah terpengaruh, mengikuti aturan, atau menjalankan perintah pemimpin yang melanggar norma keislaman maupun etika moral yang ada di masyarakat.

Apakah kita boleh menanyakan maksud dari perintah pemimpin kita? Jawabnya adalah sebaiknya ditanyakan, agar dalam lipatan pertanyaan itu terkuak maksud sebuah perintah yang sekiranya bisa melanggar norma dan etika. Namun ada karakteristik pemimpin yang enggan menjawab pertanyaan dari bawahannya, terkait hal-hal semacam itu. Biasanya mereka akan mendalihkan perintahnya dengan pernyataan: Tugasmu tinggal menjalankan perintah saya, dan sayalah yang memikirkan keputusan itu.

Mungkin saja ada pertentangan batin yang sangat kuat jika kita ingin menolak perintah itu. Kadang kita berpikir, jangan-jangan yang saya lakukan ini salah, tidak sopan, merugikan orang lain, atau melanggar perintah agama. Pernah ada satu kalimat penting ketika saya kecil, yaitu janganlah melakukan sesuatu yang sekiranya meragukan. Kalau masih ragu, tanyakan pada yang memberi perintah, benar tidaknya isi perintah itu.

Insya Allah, kita akan ‘lebih selamat’ jika bersedia menanyakan maksud perintah yang meragukan. Walaupun kadang, kita sudah dijelaskan, tapi masih tetap saja meragukannya. Gampangnya begini, asal perintah itu masih dalam batas garis kesantunan, kesopanan, kepatutan, dan tidak melanggar ketentuan agama, silakan dijalankan. Alasan utamanya adalah niat ikhlas kita dalam melakukan sesuatu semata-mata untuk ibadah. Niatnya hanya demi mendapatkan ridha Allah SWT, bukan yang lain.

Kalau kita melakukan perintah pemimpin hanya demi mendapatkan acungan jempol dan meraih sebuah kebanggaan, maka hanya sebatas itulah yang kita peroleh. Lainnya tidak. Mengapa demikian? Sebab tindak laku kita jika tidak didasarkan demi mendapatkan barokah-Nya, pastilah semuanya sia-sia.

Sadarkah kita seperti apa bentuk jihad yang sebenarnya? Dalam ulasannya, HR Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad sepakat menegaskan bahwa jenis jihad yang paling utama adalah kemampuan kita mengingatkan atau mengutarakan sesuatu kepada pemimpin kita tentang sesuatu yang dinilai adil. Tapi ingat, pernyataan itu diucapkan langsung di depan pemimpin kita, bukan melalui perantara.

Inilah peperangan yang riil dan ada kecamuk batin mendalam pada diri kita. Pastilah akan terselip rasa takut, khawatir, kecewa, malu, atau beragam sikap individu demi menyembunyikan kegalauan. Jika kita mampu melawan rasa itu untuk mengungkapkan sebuah kebenaran, kita akan merasakan sesuatu seakan telah memenangi sebuah peperangan. Dan itu memang berat untuk dilaksanakan.

Alasan kita menolah perintah bukan semata-mata ingin melawan atasan. Sebuah penolakan bisa saja dilandasi oleh ketakutan atau keraguan. Jika ada perintah untuk menerbangkan helikopter tempur dan menghancurkan sebuah kampung yang diduga dihuni oleh pelaku kriminal, tentu sebaiknya tidak menghancurkan satu kampung utuh. Di situ kemungkinan masih ada seseorang yang tidak terlibat kriminalitas tertentu. Masih perlu dipilih dan dilakukan gerilya darat. Bukan menggunakan helikopter yang menjatuhkan peledak berkekuatan super.

Andaikan itu benar-benar dilakukan, apakah Anda meyakini bahwa itu adil? Tentu tidak bukan? Bersikap adil yang sebenarnya memang sulit. Tapi paling tidak yang mendekati adil itulah yang sebaiknya dipilih dan dilakukan. Yakin dan percayalah bahwa pertimbangan kita demi mendekatkan pada keadilan, akan dicatat oleh Allah SWT sebagai sebuah amal baik, sebab Anda sudah mempertimbangkan sesuatu yang baik-buruk serta memikirkan akibatnya. Insya Allah, Nabi Muhammad SAW pun menyediakan telaga indah bagi umatnya, demi kenikmatan hakiki di sana kelak. Subhanallah....

ilustrasi: pixabay.com

Hascaryo Pramudibyanto

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

hascamaulana

Beban Politis Si Kulit Tipis

Menolak Perintah yang Meragukan

Uluran Tangan Damai Pelaku Tawuran

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Kategori

× Image